MEDIA PEMBELAJARAN
Menurut Edgar
Dale penggunaan media pembelajaran seringkali menggunakan
prinsip Kerucut Pengalaman (cone of experience), yang membutuhkan
media seperti buku teks, bahan belajar yang dibuat oleh guru dan audio
– visual. Pada gambar diatas, Edgar Dale melukiskan bahwa semakin
konkrit siswa mempelajari bahan pelajaran, maka semakin banyaklah pengalaman
yang didapatkan. Tetapi sebaliknya, jika semakin abstrak siswa mempelajari
bahan pelajaran maka semakin sedikit pula pengalaman yang akan didapatkan oleh
siswa.
Dari gambar
diatas dapat disimpulkan bahwa ketika penggunaan media pembelajaran lebih
konkrit atau dengan pengalaman langsung maka pesan (informasi) pada proses
pembelajaran yang disampaikan guru kepada siswa akan tersampaikan dengan baik.
Akan tetapi sebaliknya jika penggunaan media pembelajaran semakin abstrak maka
pesan (informasi) akan sulit untuk diterima siswa dengan kata lain siswa
menghadapi kesulitan dalam memahami dan mencerna apa yang disampaikan oleh
guru. Hal ini diperjelas oleh Arsyad (2011:7) yang
menyebutkan bahwa “pemerolehan pengetahuan dan keterampilan, perubahan –
perubahan sikap dan perilaku dapat terjadi karena interaksi antara pengalaman
baru dengan pengalaman yang pernah dialami sebelumnya”. Oleh karena
itu, penggunaan media pembelajaran akan memberikan dampak baik secara
langsung atau tidak terhadap pemerolehan dan pertumbuhan pengetahuan,
keterampilan dan sikap dari peserta didik atau siswa.
Edgar Dale berkeyakinan bahwa symbol
dan gagasan yang abstrak dapat lebih mudah dipahami dan diserap manakala
diberikan dalam bentuk pengalaman konkrit. Kerucut pengalaman merupakan awal
untuk memberikan alasan tentang kaitan teori belajar dengan komunikasi audiovisual
.
·
Pengalaman
Langsung
Dasar dari pengalaman kerucut Dale
ini adalah merupakan penggambaran realitas secara langsung sebagai pengalaman
yang kita temui pertama kalinya. Ibarat ini seperti fondasi dari kerucut
pengalaman ini, dimana dalam hal ini masih sangat konkrit. Dalam tahap ini
pembelajaran dilakukan dengan cara memegang, merasakan atau mencium secara
langsung materi pelajaran. Maksudnya seperti anak Taman Kanak-Kanak yang masih
kecil dalam melakukan praktik menyiram bunga. Disini anak belajar dengan
memegang secara langsung itu seperti apa, kemudian menyiramkannya kepada bunga.
·
Pengalaman
Tiruan
Tingkat kedua dari kerucut ini sudah
mulai mengurangi tingkat ke-konkritannya. Dalam tahap ini si pebelajar tidak
hanya belajar dengan memegang, mencium atau merasakan tetapi sudah mulai aktif
dalam berfikir. Contohnya seperti seorang pebelajar yang diinstruksikan membuat
bangunan atau gedung. Disini pebelajar tidak membuat gedung sebenarnya
melainkan gedung dalam artian suatu model atau miniature dari gedung yang
sebenarnya.
·
Hubungannya
dengan Media Belajar
Bermacam peralatan dapat digunakan
oleh guru untuk menyampaikan pesan ajaran kepada siswa melalui penglihatan dan
pendengaran untuk menghindari verbalisme yang masih mengkin terjadi kalau hanya
digunakan alat bantu visual semata. Untuk memahami peranan media dalam proses
mendapatkan pengalaman belajar bagi siswa, Edgar Dale melukiskannya dalam
sebuah kerucut yang kemudian dinamakan Kerucut Pengalaman Edgar Dale.
Kerucut pengalaman ini dianut secara
luas untuk menentukan alat bantu atau media apa yang sesuai agar siswa
memperoleh pengalaman belajar secara mudah. Kerucut pengalaman yang dikemukakan
oleh Edgar Dale itu memberikan gambaran bahwa pengalaman belajar yang diperoleh
siswa dapat melalui proses perbuatan atau mengalami sendiri apa yang
dipelajari, proses mengamati, dan mendengarkan melalui media tertentu dan
proses mendengarkan melalui bahasa. Semakin konkret siswa mempelajari bahan
pengajaran, contohnya melalui pengalaman langsung, maka semakin banyak
pengalaman yang diperolehnya. Sebaliknya semakin abstrak siswa memperoleh
pengalaman, contohnya hanya mengandalkan bahasa verbal, maka semakin sedikit
pengalaman yang akan diperoleh siswa .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar